Mungkin kita takkan lepas dari kenang.
Bersamamu selalu membuatku senang.
Hadirmu selalu membuat hati tenang.
Dirimu bagaikan gemintang.
Gemintang?
Ia milik semua orang.
Lalu, apakah aku harus terbang?
Apa kau bisa kubawa pulang?
Mungkin aku harus jadi matahari.
Atau aku harus jadi galaksi?
Aku ingin menaungi.
Aku ingin membersamai.
Semesta bilang kau miliknya.
Aku bilang semesta jangan riya'.
Tenang, aku punya senjata.
Lihat ke langit doa-doa mengudara.
Senin, 02 Desember 2019
Jumat, 22 November 2019
Siksa
Kutemukan diriku dalam sunyi.
Dalam detak jantung yang terus berbunyi.
Kutemukan diriku dalam gelap.
Dalam rongga yang sesak dan pengap.
Malam-malam menghantui.
Rintik-rintik hujan mengejek, membuli.
Aku menangis, meraung, menggali.
Segala kenang yang terus menghantui.
Diriku diejek semesta.
Kau pikir ini waktunya bercanda?
Oh ayolah! Jangan menyiksa.
Aku ingin sembuh dari luka.
Dalam detak jantung yang terus berbunyi.
Kutemukan diriku dalam gelap.
Dalam rongga yang sesak dan pengap.
Malam-malam menghantui.
Rintik-rintik hujan mengejek, membuli.
Aku menangis, meraung, menggali.
Segala kenang yang terus menghantui.
Diriku diejek semesta.
Kau pikir ini waktunya bercanda?
Oh ayolah! Jangan menyiksa.
Aku ingin sembuh dari luka.
Senin, 26 Agustus 2019
Tenggelam
Kapan terakhir kamu tersenyum bahagia?
Hari ini? Sepertinya bukan. Sudah lama ya?
Mungkin hari ini kamu tersenyum namun, apa kamu yakin kamu sedang bahagia?
Kapan terakhir kali kamu tertawa lepas?
Kemarin? Atau bulan kemarin? Atau mungkin kamu sudah lupa.
Mungkin hari ini kamu tertawa namun, bukan tawa lepas seperti saat itu.
Bibirmu mungkin tersenyum dan tertawa tapi tidak bahagia dan lepas. Karena mana mungkin mata itu berhasil menipuku. Binar mata yang kelam seperti menyimpan beribu-ribu beban. Sorot mata yang rapuh namun mencoba tetap tangguh.
Mungkin ragamu berjalan kemana-mana. Namun, ada apa dengan pikiranmu. Kamu tenggelam! Oh tidak, kamu terperangkap dalam pikiranmu sendiri.
Hari ini? Sepertinya bukan. Sudah lama ya?
Mungkin hari ini kamu tersenyum namun, apa kamu yakin kamu sedang bahagia?
Kapan terakhir kali kamu tertawa lepas?
Kemarin? Atau bulan kemarin? Atau mungkin kamu sudah lupa.
Mungkin hari ini kamu tertawa namun, bukan tawa lepas seperti saat itu.
Bibirmu mungkin tersenyum dan tertawa tapi tidak bahagia dan lepas. Karena mana mungkin mata itu berhasil menipuku. Binar mata yang kelam seperti menyimpan beribu-ribu beban. Sorot mata yang rapuh namun mencoba tetap tangguh.
Mungkin ragamu berjalan kemana-mana. Namun, ada apa dengan pikiranmu. Kamu tenggelam! Oh tidak, kamu terperangkap dalam pikiranmu sendiri.
Sabtu, 17 Agustus 2019
Tak Mau Kalah
Tahukah kamu hatiku patah.
Sebab kamu kembali berubah.
Tapi, mungkin aku yang salah.
Selalu berusaha memancing amarah.
Rindu membuat aku berulah.
Menjadi egois tak tentu arah.
Dan kamu seolah tak terbantah.
Membuat kita tak mau kalah.
Rasanya seperti berdarah.
Siapa yang akan mengalah?
Hingga kita berdua mulai lelah.
Pun akhirnya menyerah.
Sebab kamu kembali berubah.
Tapi, mungkin aku yang salah.
Selalu berusaha memancing amarah.
Rindu membuat aku berulah.
Menjadi egois tak tentu arah.
Dan kamu seolah tak terbantah.
Membuat kita tak mau kalah.
Rasanya seperti berdarah.
Siapa yang akan mengalah?
Hingga kita berdua mulai lelah.
Pun akhirnya menyerah.
Senin, 12 Agustus 2019
Untuk si Tuan
Tuan, semoga langkahmu ringan.
Semoga Tuhan selalu membuatmu aman.
Dalam setiap perjalanan.
Semoga selalu dimudahkan.
Tuan, mungkin nanti banyak rintangan.
Patah semangat, bahkan keputusasaan.
Lalu kamu belajar arti kedewasaan.
Semua yang terlewat kembali menguatkan.
Tuan, terima kasih atas segala kesempatan.
Cerita panjang yang menjadi kenangan.
Untuk bahu yang pernah engkau pinjamkan.
Bahkan setiap keluh yang selalu engkau dengarkan.
Hei Tuan, selamat ulang tahun.
Semoga tercapai semua yang engaku inginkan.
Segala mimpi-mimpi jadi kenyataan.
Dan sesuai dengan apa yang telah engkau cita-citakan.
Tuan..
Kepada semesta telah aku titipkan.
Doa untukmu telah aku panjatkan.
Semoga di dengar dan di aamiinkan.
Semoga Tuhan selalu membuatmu aman.
Dalam setiap perjalanan.
Semoga selalu dimudahkan.
Tuan, mungkin nanti banyak rintangan.
Patah semangat, bahkan keputusasaan.
Lalu kamu belajar arti kedewasaan.
Semua yang terlewat kembali menguatkan.
Tuan, terima kasih atas segala kesempatan.
Cerita panjang yang menjadi kenangan.
Untuk bahu yang pernah engkau pinjamkan.
Bahkan setiap keluh yang selalu engkau dengarkan.
Hei Tuan, selamat ulang tahun.
Semoga tercapai semua yang engaku inginkan.
Segala mimpi-mimpi jadi kenyataan.
Dan sesuai dengan apa yang telah engkau cita-citakan.
Tuan..
Kepada semesta telah aku titipkan.
Doa untukmu telah aku panjatkan.
Semoga di dengar dan di aamiinkan.
Minggu, 02 Juni 2019
Ketakutan
Aku terjebak bersama ketakutan-ketakutanku.
Semua teriak mencaci maki dalam kepalaku.
Terngiang-ngiang semua kesalahan yang aku lakukan.
Mengolok-olok seolah itu semua pantas aku dapatkan.
Aku terduduk di satu ruangan gelap dan hampa.
Memeluk lutut dan membenamkan wajahku ke dalamnya.
Hanya isak dan sesak yang menemani.
Akankah selamanya aku berada disini?
Semua teriak mencaci maki dalam kepalaku.
Terngiang-ngiang semua kesalahan yang aku lakukan.
Mengolok-olok seolah itu semua pantas aku dapatkan.
Aku terduduk di satu ruangan gelap dan hampa.
Memeluk lutut dan membenamkan wajahku ke dalamnya.
Hanya isak dan sesak yang menemani.
Akankah selamanya aku berada disini?
Minggu, 26 Mei 2019
Lelah
Ingin memiliki sesorang untuk bercerita.
Menghilangkan segala lelah yang tengah melanda.
Menghapus segala sesak di dada.
Membuat hari ini tampak lebih bermakna.
Ingin berkeluh tentang segala rasa.
Tentang hari-hariku yang terasa hampa.
Rutinitas yang membuatku depresi.
Atau segala hal yang tak pernah aku syukuri.
Aku terjebak dalam sebuah emosi.
Terlalu kalut akan pikiranku sendiri.
Dahulu aku punya kamu.
Namun sekarang dimana kamu?
Menghilangkan segala lelah yang tengah melanda.
Menghapus segala sesak di dada.
Membuat hari ini tampak lebih bermakna.
Ingin berkeluh tentang segala rasa.
Tentang hari-hariku yang terasa hampa.
Rutinitas yang membuatku depresi.
Atau segala hal yang tak pernah aku syukuri.
Aku terjebak dalam sebuah emosi.
Terlalu kalut akan pikiranku sendiri.
Dahulu aku punya kamu.
Namun sekarang dimana kamu?
Sabtu, 25 Mei 2019
Cemburu?
Melihatnya tertawa bersamamu ada sesak dalam hatiku.
Melihatnya bercanda denganmu ada iri dalam benakku.
Melihatnya bersamamu, sungguh aku ingin ada disitu.
Melihatnya disisimu, kemarin itu aku.
Mungkinkah aku cemburu?
Dan diam adalah bisaku.
Rasa ingin bersamamu membuatku membenci itu.
Menginginkanmu lebih dari yang kamu tau.
Sudahkah kamu melupakanku?
Setiap detik yang kamu habiskan bersamaku.
Merindukanmu ada dalam setiap helaan napasku.
Apa di sana kamu merindukanku?
Melihatnya bercanda denganmu ada iri dalam benakku.
Melihatnya bersamamu, sungguh aku ingin ada disitu.
Melihatnya disisimu, kemarin itu aku.
Mungkinkah aku cemburu?
Dan diam adalah bisaku.
Rasa ingin bersamamu membuatku membenci itu.
Menginginkanmu lebih dari yang kamu tau.
Sudahkah kamu melupakanku?
Setiap detik yang kamu habiskan bersamaku.
Merindukanmu ada dalam setiap helaan napasku.
Apa di sana kamu merindukanku?
Rabu, 08 Mei 2019
Tidak Berubah
Selama apapun perpisahaan, aku tidak akan melupakanmu.
Setiap hari, setiap detiknya.
Sejauh apapun kamu, walaupun kita tidak mampu bertemu, perasaan ini masih untukmu.
Rindu ini masih milikmu.
Mungkin di sana kamu melupakanku, mungkin kamu bertemu dengan orang-orang yang baru.
Namun aku masih di sini, tidak berubah.
Setiap hari, setiap detiknya.
Sejauh apapun kamu, walaupun kita tidak mampu bertemu, perasaan ini masih untukmu.
Rindu ini masih milikmu.
Mungkin di sana kamu melupakanku, mungkin kamu bertemu dengan orang-orang yang baru.
Namun aku masih di sini, tidak berubah.
Langganan:
Postingan (Atom)